Petualang Kecil Jilid 3

Kebun sahang di tengah hutan itu tak seberapa luas. Hanya cukup untuk ditanami sekitar 500 batang junjung sahang. Kebun itu dipagari dengan pohon buah-buahan. Ada pohon cempedak, rambutan, dan nangka.
Sebuah pondok kecil dan sederhana dibuat untuk beristirahat. Pondok panggung setinggi 1 meter itu beratapkan daun rumbia dan berdinding kulit kayu. Sedangkan lantainya terbuat dari kayu kecil yang dipasang rapat. Di pojok kanannya terdapat tungku kayu api. Sedangkan di luar pondok ada seikat kayu bakar, siap untuk dibawa. Tanah di dekat pondok itu ditanami singkong dengan pucuk yang baru tumbuh, cabe rawit, dan nanas dengan buah mudanya.
Sang ibu membersihkan rumput di lungkang-lungkang sahang dengan menggunakan kedik. Wanita menjelang 40 tahun itu menyeka keringat yang mengucur dari dahinya. Ah! Baru 20 lungkang.....
Teringat ia dengan anak perempuannya yang merengek tadi, senyum terukir di bibirnya. Si bungsu kesayangan keluarga itu manja sekali. Biasanya ia diajak serta ke kebun. Anak itu bisa mengobati lelah setelah bekerja dengan tingkah dan celotehnya yang lucu. Aku harus cepat, kasihan Abang yang mau berangkat sekolah....

Petualang Kecil (2)


Ia sudah melewati batu yang biasa disebut oleh warga dengan sebutan batu buaya, karena bentuknya yang mirip dengan binatang tersebut. Itu berarti tak lama lagi ia akan mulai masuk hutan.

 

Kini anak perempuan kecil itu berdiri di hadapan jalan masuk hutan yang bercabang-cabang. Ia hanya mengandalkan ingatannya saat diajak menuju kebun sahang keluarganya yang jelas-jelas berada di tengah hutan.Tanpa takut dan ragu ia melangkah, mengambil cabang jalan yang dikiranya akan sampai kepada ibunya. Dan ia semakin masuk ke dalam kerimbunan hutan.....

 

Sementara itu di rumah...

Kakak laki-lakinya yang merupakan anak tertua kebingungan mencari adik bungsunya. Remaja kelas 2 SMA yang sekolah sore itu merasa yang paling bertanggungjawab atas kehilangan adiknya. Ibunya telah mewanti-wanti agar ia menjaga si bungsu. Ia hanya lengah sebentar!


Petualang Kecil


Bibir anak umur tiga setengah tahun itu manyun. Sesekali  matanya melihat roda sepeda tua milik ibunya.

“ Adek jangan ikut Emak ke kebun hari ini. Pulangnya Emak mau bawa kayu bakar. Kalau Adek ikut, nanti duduk dimana? Boncengannya kan penuh..” jelas ibunya saat anak itu merengek mau ikut ke kebun sahang milik mereka.

Anak perempuan kecil itu tak membantah ibunya. Hanya bibirnya semakin manyun dan matanya mendelik-delik tanda tak suka. Bahkan salam ibunya tak ia jawab.

Demi mendengar tak ada rengekan yang keluar dari mulut si bungsu itu, sang ibu mulai mengayuh sepedanya. Perlahan tapi pasti ia semakin menjauh dari rumah. Ia masih sempat menoleh ke belakang untuk memastikan anak bungsunya yang manja itu tidakmengejarnya. Setelah yakin, sang ibu melanjutkan perjalanannya. Ia yakin anaknya yang lebih besar mampu menjaga adiknya itu.

Tapi siapa yang tahu apa yang dipikirkan oleh anak perempuan kecil yang baru tiga setengah tahun itu? Siapa yang akan menyangka kalau ia bisa berbuat nekat?


Pemberian Hadiah Dengan Konsep Layang-layang

Jika pada artikel yang lalu pernah membahasa tentang Hukuman Yang Produktif, kali ini saya mendapat ilmu lagi dari Ustadz Sapta Nurrachman yang ingin saya bagi. Ini menyangkut pemberian hadiah kepada anak. Jangan hanya bisa memberi hukuman kepada anak, tapi kita juga harus bisa memberi hadiah atas prestasinya. Walaupun masih banyak perdebatan seputar pemberian hukuman dan hadiah kepada anak, tapi tidak ada salahnya untuk mempelajarinya agar bertambah ilmu pendidikan anak kita.

Anak-anak biasanya mempunyai selalu ingin memiliki benda yang dianggapnya bagus. Mereka bisa menggunakan cara “ halus “ , yaitu dengan cara merayu atau hanya sekedar merengek kepada orang tuanya. Tapi jika rayuannya tak mempan maka mereka tak segan- segan menggunakan cara “keras”, yaitu dengan mengamuk, guling-guling, menjerit, menangis, dan yang paling parah…dilakukannya di hadapan orang yang kita hormati. Dan biasanya juga, untuk menghindar dari malu, orang tua akan menuruti keinginan anak walau disertai omelan.


Jawaban Sang Abi

Di angkot Soreang – Kebon Kalapa,  aku mencuri dengar percakapan seorang anak laki-laki 6 tahunan dengan ayahnya yang dipanggil dengan Abi. Sepertinya sang Anak baru melihat video tentang awan berbentuk mata yang menghebohkan itu. Awan berbentuk mata yang konon terlihat di langit Padang tepat 3 jam setelah gempa 30 September 2009 lalu.

“ Bi…awannya mirip mata ya?”

“ Iya..”

“ Bi…matanya besar sekali ya?”

Sang Abi hanya tersenyum menanggapinya.

“ Bi….itu mata Allah ya?”


1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6