Ujian Euy.....!

Beginilah kalo dah jadi emak-emak sok ikutan kuliah lagi....repotnya minta ampun. Untunglah para dosennya pengertian. Melihat usia para mahasiswanya yang sudah ga muda lagi...( ada yang sudah berusia 50 tahu loh!), maka diizinkan Open Book. Itu artinya tak ada beban mesti menghafal. Jelas saja menghafal itu bikin repot, apalagi untuk ukuran ibu yang sudah melahirkan 2 orang anak...hehehe

Ada yang bilang, melahirkan itu bisa membuat urat syaraf putus. Walaupun belum teruji kebenaran teori itu, aku merasakan perbedaan daya ingat sewaktu masih gadis dengan sekarang setelah jadi ibu. Melorot...menurun...jungkirrrr...!

Kembali lagi dengan ujian....koq emak-emak ini ikutan ujian?

Nah itu dia! Ketika orang lain yang seusia denganku sibuk mengejar gelar S2 bahkan ada yang S3, aku masih berkutat mengejar S1. Lho selama ini ngapain...?


Tak Perlu Panik Jika Anak Sakit


Beberapa hari terakhir ini aku disibukkan oleh dua buah hatiku. Pertama Salman yang sakit. Biasa…batuk plus pilek. Badannya agak panas. Berdasarkan artikelnya Mimi Allz yang berjudul Batuk?? Bisa Sembuh Tanpa Obat, Bu… aku berusaha untuk tidak memberikan buah hatiku ini obat-obatan kimia dulu. Cukup dengan asi sebanyak-banyaknya. Makan dan minum juga diperbanyak.  

Mamah dan bapak bertanya,” Geus diubaran budak teh ( sudah diberi obat anaknya)?”

Aku hanya mengangguk dan bilang,” Sudah.”  Dilanjutkan dalam hati, “ Tapi bukan obat dari dokter.”

Ternyata dalam 3 hari Salman sembuh. Alhamdulillah….

Jum’at, saatnya lebaran. Setelah acara kumpul keluarga besar, Ghiya bermain dengan Difty yang sebaya dengannya. Sama-sama 3 tahunan. Karena terlihat akur, kutinggalkan mereka berdua main boneka sementara aku membawa Salman yang mengantuk ke kamar.

Ketika kembali, kudapati Ghiya tidur dilantai dengan memeluk guling. Pikirku, mungkin Ghiya kecapean. Maka kuangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar. Tapi ada yang berbeda. Sekujur tubuhnya panas, kecuali telapak tangan dan kakinya yang dingin. MasyaAllah….Ghiya demam!


Persiapan Lebaran di Bangka

Masyarakat di Bangka khususnya di kampungku yaitu Desa Lampur, menyambut setiap hari raya dengan persiapan yang lumayan heboh. Dari pakaian, dekorasi rumah, dan yang tak kalah penting adalah makanannya.

Persiapan memasak makanan khas lebaran pun perlu diperhitungkan. Apalagi untuk para ibu rumah tangga yang termasuk pintar membuat kue, maka seminggu sebelum lebaran  sudah heboh di dapur membuat kue-kue kering. Ditambah lagi dengan keharusan berbelanja ke Pangkal Pinang yang berjarak sekitar 45 menit perjalanan tanpa macet untuk membeli camilan khas pulau Bangka seperti kritek, kricu, kemplang panggang, kempalng sutong, kemplang udang, kemplang ikan dan sebagainya, yang mendekati kata wajib ada saat lebaran.

Lalu para laki-laki disibukkan untuk mencari janur kuning untuk membuat ketupat. Proses membuat ketupat ini memerlukan waktu juga. Dari menjemur janur, membuang lidinya sampai menganyam ketupat. Dua hari menjelang lebaran kesibukan semakin terasa. Kebersihan rumah dan halaman diprioritaskan. Malu sama tamu yang bersilaturahmi jika rumput di halaman sudah terlihat liar. Atau kaca jendela berdebu tebal dan kursi yang berbau apek…..bisa-bisa si tuan rumah dianggap pemalas.


Tips Membiasakan Gosok Gigi Pada Balita

Sebelum punya anak, aku sudah punya beberapa keponakan. Dan diantara mereka ada beberapa yang tidak suka gosok gigi. Akibatnya gigi geligi itu menghitam. Walaupun gigi susu itu akan copot dan tergantikan, tapi bukankah lebih enak dilihat kalau terpelihara sejak dini?
 
Ada beberapa tip yang kulakukan untuk membiasakan sikat gigi pada balitaku, yaitu:

Dalam Pelukan Emak

Emak, wanita perkasa yang bersahaja itu begitu luar biasa bagiku. Kenakalan-kenakalan yang kubuat di masa kecilku memang sering membuahkan omelannya. Saking seringnya mendapat omelan, aku pernah berpikir kalau Emak tak sayang padaku. Apa – apa salah.... apa-apa diomelin....tiada hari tanpa omelan......
Koq Emak enggak capek ya ngomel terus?
Ketika itu aku yang masih di SD sudah pulang sekolah. Ketiga kakakku tak ada di rumah. Yang sulung berada di Palembang bersama Ayah. Yang dua lagi ada di Pangkal Pinang. Tinggallah aku berdua dengan Emak di rumah.
Aku ingat betul....dulu di samping rumah kami masih berupa kebun karet (sekarang sih kebunnya sudah dibabat dan dijadikan rumah tempat tinggal tetanggaku). Di tambah lagi kelapa yang tingginya menjulang di kiri kanan rumah. Ada juga pohon durian, rambutan, rambai.....pokoknya rimbun dan hijau pekarangan rumah kami.
Dan siang itu betul-betul menegangkan.....

<< Previous 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 Next >>
Your Ad Here