Petualang Kecil


Bibir anak umur tiga setengah tahun itu manyun. Sesekali  matanya melihat roda sepeda tua milik ibunya.

“ Adek jangan ikut Emak ke kebun hari ini. Pulangnya Emak mau bawa kayu bakar. Kalau Adek ikut, nanti duduk dimana? Boncengannya kan penuh..” jelas ibunya saat anak itu merengek mau ikut ke kebun sahang milik mereka.

Anak perempuan kecil itu tak membantah ibunya. Hanya bibirnya semakin manyun dan matanya mendelik-delik tanda tak suka. Bahkan salam ibunya tak ia jawab.

Demi mendengar tak ada rengekan yang keluar dari mulut si bungsu itu, sang ibu mulai mengayuh sepedanya. Perlahan tapi pasti ia semakin menjauh dari rumah. Ia masih sempat menoleh ke belakang untuk memastikan anak bungsunya yang manja itu tidakmengejarnya. Setelah yakin, sang ibu melanjutkan perjalanannya. Ia yakin anaknya yang lebih besar mampu menjaga adiknya itu.

Tapi siapa yang tahu apa yang dipikirkan oleh anak perempuan kecil yang baru tiga setengah tahun itu? Siapa yang akan menyangka kalau ia bisa berbuat nekat?


Pemberian Hadiah Dengan Konsep Layang-layang

Jika pada artikel yang lalu pernah membahasa tentang Hukuman Yang Produktif, kali ini saya mendapat ilmu lagi dari Ustadz Sapta Nurrachman yang ingin saya bagi. Ini menyangkut pemberian hadiah kepada anak. Jangan hanya bisa memberi hukuman kepada anak, tapi kita juga harus bisa memberi hadiah atas prestasinya. Walaupun masih banyak perdebatan seputar pemberian hukuman dan hadiah kepada anak, tapi tidak ada salahnya untuk mempelajarinya agar bertambah ilmu pendidikan anak kita.

Anak-anak biasanya mempunyai selalu ingin memiliki benda yang dianggapnya bagus. Mereka bisa menggunakan cara “ halus “ , yaitu dengan cara merayu atau hanya sekedar merengek kepada orang tuanya. Tapi jika rayuannya tak mempan maka mereka tak segan- segan menggunakan cara “keras”, yaitu dengan mengamuk, guling-guling, menjerit, menangis, dan yang paling parah…dilakukannya di hadapan orang yang kita hormati. Dan biasanya juga, untuk menghindar dari malu, orang tua akan menuruti keinginan anak walau disertai omelan.


Jawaban Sang Abi

Di angkot Soreang – Kebon Kalapa,  aku mencuri dengar percakapan seorang anak laki-laki 6 tahunan dengan ayahnya yang dipanggil dengan Abi. Sepertinya sang Anak baru melihat video tentang awan berbentuk mata yang menghebohkan itu. Awan berbentuk mata yang konon terlihat di langit Padang tepat 3 jam setelah gempa 30 September 2009 lalu.

“ Bi…awannya mirip mata ya?”

“ Iya..”

“ Bi…matanya besar sekali ya?”

Sang Abi hanya tersenyum menanggapinya.

“ Bi….itu mata Allah ya?”


Jatuh? Bangun Lagi Sayang

Ketika usianya 1 tahun, Salman mulai belajar jalan tanpa berpegangan. Selangkah demi selangkah ia usahakan. Terlihat kalau kakinya berat untuk melangkah karena menjaga keseimbangan tubuhnya. Tak jarang ia terjatuh. Kadang hanya terduduk, tapi ada juga kalanya ia tersungkur. Bila merasa kesakitan ia akan menangis. Tapi itu tak membuatnya jera atau melakukan aksi mogok dengan tidak mau lagi belajar berjalan. Ia bangkit dari jatuhnya dan mulai lagi belajar jalan. Salman hebat…!

Setelah sebulan ia belajar berjalan, kini Salman sudah jarang terjatuh. Tampaknya sudah mahir jalan ia. Namun Salman belum puas dengan hanya bisa berjalan. Sekarang ia belajar lari……. Dan untuk bisa lari ternyata proses belajarnya lebih berat dari proses belajar jalan. Salman makin sering jatuh tersungkur dan tak jarang badannya terbentur dengan pintu atau tembok. Apakah ia jera? Tidak! Salman memang menangis, tapi tak lama kemudian ia akan berusaha untuk lari lagi.


Pulau Timah Tersayang, Jangan Tenggelam

…………………

Dunia sekarang sedang berperang melawan perubahan iklim. Kenaikan suhu lebih dari 2 derajat C dibanding sebelum revolusi industri diperkirakan akan membaawa konsekuensi yang sangat parah.

Antara lain :

  1. Kekeringan akan melanda 3 milliar penduduk dunia.
  2. Sebanyak 1 milliar orang harus diungsikan.
  3. 30% spesies hewan dan tanaman akan punah [ tanya saja sama mas Alamendah ]
  4. GDP (Gross Domestic Product ) akan turun sampai 20 persen.

……………………...

(cuplikan artikel ini diambil dari blogg punya Afif)

Jika ada yang membicarakan tentang keadaan bumi seperti di atas, pikiranku langsung dipenuhi dengan kondisi pulau kelahiranku. Ada beberapa blogger yang menulis tentang kondisinya seperti Rizal, Makngah Lena, dan Yaya Masita ( sepengetahuanku mereka memang tinggal di pulau Bangka). Pulau Bangka yang kaya akan timah dan membuat sebagian dari penduduknya menjadi kaya karena timah. Tapi dampak buruk yang ditimbulkan oleh eksploitasi lingkungan yang berlebihan membuat pulau ini sudah tak senyaman dulu lagi.


<< Previous 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 Next >>
Your Ad Here