Arti Kata Nanti
Ada uang dalam genggaman tangan mungilnya. Ia mengulurkan tangannya dan menatapku penuh harap.
“ Uangnya pegang sama Ibu saja….”
“ Takut hilang ya…?” tebakku.
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
“ Buat beli sepeda warna pink!”
Seakan ada yang menggelitik hatiku. Uang yang ia sodorkan padaku itu sebesar tiga ribu lima ratus rupiah. Kapan ya ada sejarah sepeda harganya tiga ribu lima ratus rupiah? Apalagi di zaman sekarang ini, untuk beli semangkuk baso saja sudah tidak cukup! Tapi aku tak ingin mengecewakannya
“ Nanti ya sayang… uangnya kita masukkan ke dalam celengan ikan oranye kakak saja ya…?”
Memang sudah sebulan ini ia menginginkan sepeda roda dua warna pink. Sepeda roda tiga miliknya sudah tidak menarik perhatiannya lagi. Aku tak lantas membelikan sepeda pink yang disukainya itu. Setiap kali ia menanyakan sepeda pink, aku jawab,
“ Nanti ya …. uangnya belum cukup.”
Sebagai seorang ibu, seakan ada yang membetot-betot hatiku untuk segera membelikannya sepeda roda dua yang diidamkannya itu. Ayolah…..berapa sih harga sepeda kecil begitu? Kalau uangnya tidak cukup, beli saja yang second. Cat warna pink…bereskan! Aku ingin segera melihat senyum bahagia mengembang di bibirnya.
Tapi tahan dulu …….
Ini adalah kesempatan bagiku untuk mendidiknya. Mengajarkan kepadanya makna ikhtiar secara sederhana.
Maka ku biarkan gadis kecil itu belajar berusaha dan sabar untuk memperoleh apa yang ia inginkan. Dengan demikian aku harap ia akan menghargai apa yang ia punya.
“ Nanti ya….. “
Dengan anggukan dan senyumnya yang ceria, mungkin ia mulai tahu bahwa dibalik kata nanti milik ibunya ada usaha, do’a dan sabar didalamnya.
Akan Ibu belikan sepeda itu untukmu sayang, tunggu saja…..!
“ Nanti ya…..”
Tags : pendidikan anak, sepeda, ikhtiar, belajar
