Hukuman Yang Produktif

Dalam beberapa forum parenting, sering kali diungkapkan tentang hukuman produktif. Hukuman yang produktif adalah bentuk hukuman yang diberikan kepada anak yang memiliki nilai positif dan bermanfaat. Hukuman produktif sangat berbeda dengan hukuman yang mengandung kekerasan. Meskipun demikian, ada beberapa orang tua yang berpendapat bahwa memberi hukuman kepada anak bukanlah langkah yang bijaksana dalam menegakkan disiplin, namun memberikan hukuman tetaplah bukan suatu dosa bila dilakukan dengan halus dan bertujuan untuk kebaikan sang anak.

Ada beberapa contoh hukuman yang produktif, misalnya:

  1. Membersihkan kamarnya sendiri
  2. Menyapu halaman
  3. Merapikan ruangan
  4. Menghafal beberapa ayat Al Qur’an dengan batas waktu yang ditentukan
  5. Membaca buku tertentu
  6. Membuat ringkasan buku
  7. Mengurangi uang jajan, dll

Yang perlu diperhatikan dalam memberikan hukuman produktif adalah adanya kesepakatan antara orang tua atau pendidik dengan anak. Kesepakatan inilah yang harus dipatuhi oleh kedua pihak. Apabila anak melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan dalam kesepakatan itu, maka ia harus siap dengan konsekwensinya. Jadi pada dasarnya, anak belajar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Menurut Ustadz Sapta Nurachman,bentuk hukuman produktif harus disesuaikan dengan kondisi si anak. Anak yang di rumahnya memiliki pembantu rumah tangga, bisa diberikan bentuk hukuman seperti membersihkan ruangan. Hal ini dimungkinkan karena si anak sangat jarang bersentuhan dengan pekerjaan rumah tangga. Sedangkan anak yang tidak ada pembantu di rumahnya bisa dengan menghafal atau mengurangi uang jajan. Jadi pada dasarnya, hukuman yang produktif adalah bentuk hukuman yang fleksibel (tidak kaku).

Di sisi lain, sebagai orang tua tidak sepantasnya hanya menjadi penghukum. Orang tua juga harus menjadi orang terdepan dalam mengapresiasi prestasi (termasuk di dalamnya perbuatan yang baik) anak. Jangan sampai menjadi orang tua yang suka memberi kritikan dan hukuman sehingga dicap sebagai orang tua yang pelit pujian.

Artikel ini berdasarkan pengembangan dari beberapa sumber bacaan dan forum parenting. Bagaimana menurut anda?

Tags : parenting, hukuman, produktif, pendidikan anak

 

 

10 komentar

  1. Menurut Tiwi hukuman produktif itu baik.
    Untungnya Tiwi nggak pernah dihukum produktif.Hehe...
    Kalau poin no 1 itu udah jadi kebutuhan, kalau nggak Tiwi bakalan pyusing lihat kamar yang berantakan.

  2. Kalo Tiw mah hukumannya adalah rajin menabung...kan biar bisa punya itu tuhhh..

  3. Hehe.........iya dech. Tiwi nabung.
    (Cu, jangan lupa datang ke blog ayuk yang hoyy...help me, please!! Tell me about drugs!!!)

  4. Ye....sebelum diminta dah datang duluan koq

  5. Informasi yang bermanfaat.Bisa nih diterapkan

    desri : Silahkan dicoba...

  6. assalamualaikum, auntie desri... tipsnya useful sekalee... allegra mah ga keberatan kalo hukumannya kayak hukuman produktif di atas, abis allz khan suka beres2, blajar surat pendek lagi dilakuin ney...yang jadi masalah bikin ringkasan buku nii, soalnya allz khan blum bica nulis hihihi...(nulis benang kusut mah iya...)
    trus masalah uang jajan mah, kecil...lha wong allz belum dapet duit jajan hehehe... :)

    desri : Khusus buat Allz mah hagkis (pelukcium maksud ne)aja dulu hukumannya, sama spt adek Salman...Tapi untuk KK Ghiya mah kalo melanggar peraturan sudah ada hukumannya: berdiri di pojok lalu bilang maaf dan pelukan deh...

  7. Kenapa tidak ada yang mengajari orang tua saya hal beginian waktu saya masih kecil dulu?

    desri : Napah Neng...sering dapet hukuman yahh?

  8. Pilih yang nomor 7 aja lah ...

    desri : bole...fleksibel koq

  9. wuich.. manteb dech on top.
    kang, kasih panduan buat yang gaptek niech..
    bisa nongol di page berapapun gak masalah sih, nich gak nongol blas punyaku.
    baca-baca seo gak ngêh juga.

  10. Terimaksih, artikelnya...
    Kebetulan saya juga masih bingung n belum dapet gambaran gimana sih caranya 'disiplin dengan kasih sayang'

    Semoga kita dapat selalu berbenah diri untuk kebaikan generasi yad.

    desri : kita sama-sama belajar ya...amin

Nama (diperlukan)
Email (diperlukan)(tidak akan dipublish)
Website
Your Ad Here