Pemberian Hadiah Dengan Konsep Layang-layang
Jika pada artikel yang lalu pernah membahasa tentang Hukuman Yang Produktif, kali ini saya mendapat ilmu lagi dari Ustadz Sapta Nurrachman yang ingin saya bagi. Ini menyangkut pemberian hadiah kepada anak. Jangan hanya bisa memberi hukuman kepada anak, tapi kita juga harus bisa memberi hadiah atas prestasinya. Walaupun masih banyak perdebatan seputar pemberian hukuman dan hadiah kepada anak, tapi tidak ada salahnya untuk mempelajarinya agar bertambah ilmu pendidikan anak kita.
Anak-anak biasanya mempunyai selalu ingin memiliki benda yang dianggapnya bagus. Mereka bisa menggunakan cara “ halus “ , yaitu dengan cara merayu atau hanya sekedar merengek kepada orang tuanya. Tapi jika rayuannya tak mempan maka mereka tak segan- segan menggunakan cara “keras”, yaitu dengan mengamuk, guling-guling, menjerit, menangis, dan yang paling parah…dilakukannya di hadapan orang yang kita hormati. Dan biasanya juga, untuk menghindar dari malu, orang tua akan menuruti keinginan anak walau disertai omelan.
Kembali ke masa lalu…… Dulu Emak selalu mewanti-wanti agar saya tidak banyak permintaan sewaktu ada tamu yang bertandang ke rumah. Tapi dasar anak kecil, saya pernah nekat coba-coba merengek ketika ada tamu. Dan yang saya peroleh adalah cubitan ala cabe rawit Emak. Kecil tapi dahsyat rasanya. Setelah mendapat ” cabe rawit “ itu, dengan pelototannya saja saya sudah mengerti bahwa keinginan saya tidak akan dipenuhi dengan cara membuat malu emak itu.
Saat ini, banyak orang tua yang bisa dengan mudah memenuhi permintaan anaknya akan barang bagus yang disukainya. Namun akan lebih bijak jika kita mau menggunakan konsep layang-layang dalam memberikan benda itu sebagai hadiah untuk prestasinya. Mengapa layang-layang?
Walau bukan seorang yang mahir main layang-layang ( dulu hanya jadi yang ngacungin layang-layangnya atau kebagian tugas menggulung benangnya), saya cukup mengerti jika ingin layang-layang itu terbang tinggi harus ada kegiatan tarik ulur benangnya.
Konsep tarik ulur benang layang-layang inilah yang bisa diterapkan dalam memberi hadiah untuk anak. Ketika anak menginginkan suatu barang misalnya mainan, maka sebagai orang tua kita boleh saja mengiyakannya. Ini adalah konsep ulur. Tapi anak harus melakukan sebuah prestasi, misalnya ia sedang belajar membaca Al Qur’an dengan buku Iqra, maka ia akan dibelikan mainan tersebut jika ia sudah bisa baca Al Qur’an. Inilah konsep tarik. Dengan konsep ini diharapkan anak mengerti nilai usaha positif yang dilakukannya.
Intinya adalah membebaskan anak mempunyai keinginan memiliki sesuatu tapi tetap memintanya untuk melakukan usaha untuk memperoleh keinginannya tersebut. Wallahualam…….
Saya masih harus banyak belajar untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak.
Bagaimana menurut pendapat anda tentang konsep ini?
Tags : pendidikan anak, paud, anak, bermain, parenting, hadiah
