Syukuri Apa Yang Ada
Dua-duanya dalah panggilan untuk kakak perempuan. Teteh dalam bahasa sunda sedangkan ayuk, ada beberapa daerah yang menggunakannya. Dalam bahasa Bangka, Palembang dan Jawa ditemukan kata ayuk. (Khusus untuk bahasa Jawa, saya menemukannya karena mbak jamu di Soreang dipanggil dengan kata Ayuk, sehingga saya berasumsi kata ayuk ada dalam bahasa Jawa)
Teteh dan ayuk memiliki fungsi yang sama yaitu untuk memanggil perempuan yang masih muda tapi tua (???). Apaan sih? Artikan sajalah sendiri! Saya bukan ahli bahasa, lagi pula artikel ini bukan mau membahas tentang kedua kata tersebut koq.
Saya hanya ingin berbagi cerita tentang kedua orang perempuan yang dekat dengan saya. Yang satu saya panggil dengan kata Teteh, dan yang lain dengan Ayuk. Keduanya adalah kakak perempuan saya yang tercinta. Ngerumpiin kakak sendiri, Des? Ya…gitu deh. Mudah-mudahan mereka tidak marah. Mungkin malah tertawa, seperti yang biasa kami lakukan bila membahas cerita ini.
Singkat kata singkat cerita …..
Dulu sebelum menikah, mereka mempunyai kriteria yang berbeda tentang calon suaminya….
Teteh : Suamiku nanti harus orang luar Bangka. Ya kalau pun orang Bangka …. Minimal ga sekampung.
Aku : Mengapa, Teh?
Teteh : Aku sudah tahu semua karakter cowok kampung kita. Ga ada yang oke!
Aku : Koq bisa tahu, ya?
Teteh : O… jelas! Aku kan cewek gaul.
Begitu kira-kira percakapanku dengan Teteh.
Ayuk : Pengen punya suami orang Bangka aja. Sekampung juga enggak apa-apa.
Aku : Mengapa, Yuk?
Ayuk : Aku kan mabuk kalau naik kendaraan.
Aku : Apa hubungannya?
Ayuk : Ada dong… Kalau lebaran kan harus mudik, pasti naik kendaraan. Capek deh!
Begitu kira-kira obrolanku dengan Ayuk.
Yang terjadi kemudian, keduanya memang memilih calon suami sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan. Konsisten, menurut saya. Teteh berhubungan dengan orang di luar kampung kami, sedangkan ayuk…ya, tetap dengan prinsipnya, bukan orang jauh.
Dan mereka pun menikah. Dengan siapa? Hebatnya sama seperti yang mereka cita-citakan. Hanya saja dibalik. Allah mengabulkan dua keinginan ini dengan cara memberikan keinginan Ayuk untuk Teteh dan sebaliknya, keinginan Teteh untuk Ayuk.
Ayuk menikah dengan orang Pamekasan, Madura. Jauuuuuuh dari Bangka. Dan Teteh ….hm….. diberi suami yang asli Bangka dan …..satu kampung!
Intinya apa, Des? Apa ya …..? Begini deh, kita boleh saja bercita-cita, punya keinginan,dan angan-angan. Tapi jika Allah menghendaki hal yang lain untuk kita, apakah harus merana dan berputus asa? Nikmati saja lah.
Buktinya, Teteh bisa sering bersilaturahmi ke mertuanya yang hanya berjarak 5 menit dari rumahnya. Sedangkan Ayuk, bisa menikmati asyiknya jalan-jalan ke Madura. Ajaibnya lagi, penyakit mabuk kendaraan Ayuk hilang.
D’masiv bilang, “………… syukuri apa yang ada…….”
